RI-Filipina jalin kerjasama pendidikan, termasuk pertukaran santri

RI-Filipina jalin kerjasama pendidikan, termasuk pertukaran santri
RI-Filipina jalin kerjasama pendidikan, termasuk pertukaran santri

RI-Filipina jalin kerjasama pendidikan, termasuk pertukaran santri

BerbagaiCerita-RI-Filipina jalin kerjasama pendidikan, termasuk pertukaran santri Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi Jumat (12/1) sore melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muayyad Solo. Dalam kesempatan tersebut, Menlu berkesempatan berdialog dengan pimpinan, pengasuh dan para santri.

Kepada wartawan Retno mengemukakan bahwa saat ini pemerintah sedang merintis kerjasama bidang pendidikan dengan sekolah-sekolah Islam di Filipina. Di antaranya terkait penyusunan kurikulum, pertukaran guru, pengasuh dan pertukaran santri.

“Letter of Intent sudah ditandatangani pemerintah Indonesia dan Filipina awal Januari lalu di Filipina. Para santriwan dan santriwati terbaik akan kita ikutkan dalam program exchange (pertukaran) tersebut,” ujarnya.

Retno berharap program tersebut mampu memperkuat kebijakan politik luar negeri Indonesia melalui dunia pendidikan. Retno menganggap penting kerjasama tersebut, apalagi Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Membela kepentingan umat Islam itu, kata dia, menjadi penting bagi politik luar negeri Indonesia.

“Yang banyak kita jumpai selama ini salah interpretasi tentang Islam, padahal Islam itu agama damai. Maka para santri nanti yang ikut bertanggung jawab untuk meluruskan potret yang salah tentang Islam itu,” tandasnya.

Lebih lanjut Retno menyampaikan, kerjasama pendidikan dan sejumlah kebijakan luar negeri lain diharapkan bisa mengikis Islamophobia dan Xenophobia.

“Umat dan agama Islam memang menjadi salah satu prioritas dalam politik luar negeri Indonesia. Apalagi sejumlah fakta menunjukkan bahwa kondisi umat Islam di dunia cenderung memprihatinkan,” katanya.

Sebelum meninggalkan pondok, Menlu Retno juga menyempatkan diri berdiskusi dengan para santri. Kepada Menlu sejumlah santri menanyakan konflik antara Israel dan Palestina.

“Tujuan kita ke sini untuk bersilaturahmi dan bertukar pikiran mengenai politik luar negeri kita. Menyangkut anak-anak sekolah di SMP, SMA, dan mahasiswa,” ucap Retno.

Pengasuh Ponpes Al Muayyad, Muhammad Dian Nafi mengungkapkan, kedatangan Menlu ke ponpes sangat penting untuk mengenalkan diplomasi publik terhadap para masyarakat. Baik masyarakat keagamaan, masyarakat kesenian, masyarakat profesi, dan masyarakat akademik.

“Semua harus masuk ke dalam bidang yang sangat penting, diplomasi publik,” terangnya