Jual 7 hektar tanah Pemkot Surabaya, eks Direktur PT Abattoir ditahan

Jual 7 hektar tanah Pemkot Surabaya, eks Direktur PT Abattoir ditahan
Jual 7 hektar tanah Pemkot Surabaya, eks Direktur PT Abattoir ditahan

Jual 7 hektar tanah Pemkot Surabaya, eks Direktur PT Abattoir ditahan

BerbagaiCerita-Jual 7 hektar tanah Pemkot Surabaya, eks Direktur PT Abattoir ditahan Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur melakukan penahanan terhadap mantan Direktur PT Abattoir Surya Jaya, Winardi Kresna Yudha. Dia diduga terlibat menjual aset tanah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya seluas 70.000 meter persegi.

Penahanan itu setelah penyidik menetapkannya sebagai tersangka, setelah menjalani pemeriksaan penyidik. Setelah itu, baru penahanannya di Rumah Tahanan Klas I Surabaya, Kejaksaan Tinggi Surabaya,selama 20 hari kedepan.

“Tersangka Winardi ini merupakan orang pertama penghuni Rutan Kejati Jatim,” kata Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim Didik Farkhan, Kamis (11/1).

Menurut dia, penahanan dilakukan terhadap Winardi, supaya tidak melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. Selain itu, juga untuk mempermudah dalam penanganan pemeriksaan lanjutan terhadap tersangka Winardi.

Korupsi dilakukannya, bermula dari tahun 1998 saat PT Abattoir menggunakan lahan milik Pemkot Surabaya di Jalan Banjar Sugihan, Tandes seluas 13.195 meter persegi, untuk Rumah Potong Hewan (RPH).

Sebagai kompensasi penggunaan lahan tersebut Pemkot mendapat tanah seluas 70.000 meter persegi atau 7 hektar, terletak di Desa Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dari hasil tukar menukar tanah (Ruislag) dengan PT Rungkut Central Abadi (RCA).

Tahun 2001-2010, seharusnya segera menyerahkan tanah itu ke Pemkot. Ternyata tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada tahun 2007 Winardi menjual tanah itu kepada PT RCA dengan harga Rp 1,5 Milyar.

“Akibat perbuatan tersangka negara (pemerintah Kota Surabaya) mengalami kerugian negara Rp 26,2 miliar itu berdasarkan audit Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP),” ujar dia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*